Ichigo Kurosaki - Bleach 5
Posted by : carl prayogi Sabtu, 07 Desember 2013



Cerita Rakyat Melayu Riau - Batu Batangkup

Bosen nih bahas tentang yg OOT. Mending kita membaca cerita rakyat.

  Cerita rakyat melayu ini sejak aku kecil dah pernah kudengar. Dahulu setahuku judulnya
“Batu Belah Batu Betangkup” yang berarti batu yang bisa terbuka dan tertutup (terbelah
dan kemudian bersatu kembali) seperti kerang. Pada buku Cerita Rakyat Melayu keluaran
Adicita diberi judul Batu Batangkup dengan pencerita Farouq Alwi serta disunting oleh
Mahyudin Al Mudra dan Daryatun. Buku ini terbitan Oktober 2006 merupakan kerjasama
antara Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu dengan Adicita Karya Nusa.
Berikut saduran/gubahan dari buku tersebut :


  Zaman dahulu di dusun Indragiri Hilir, tinggal seorang janda bernama Mak Minah di
gubuknya yang reyot bersama satu orang anak perempuannya bernama Diang dan dua
orang anak laki-lakinya bernama Utuh dan Ucin. Mak Minah rajin bekerja dan setiap hari
menyiapkan kebutuhan ketiga anaknya. Mak Minah juga mencari kayu bakar untuk dijual
ke pasar sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka.

  Ketiga anaknya sangat nakal dan pemalas yang senang bermain-main saja, tak mau
membantu emaknya. Sering mereka membantah nasihat emaknya
sehingga Mak Minah
sering bersedih. Mak Minah telah tua dan sakit-sakitan. Merka bermain kadang sampai
larut malam. Mak Minah sering menangis dan meratapi dirinya.

  “Yaaa Tuhan, tolonglah hamba. Sadarkanlah anak-anak hamba yang tidak pernah mau
menghormati emaknya,” Mak Minah berdoa diantara tangisnya.
Esok harinya, Mak Minah menyiapkan makanan yang banyak untuk anak-anaknya.
Setelah itu, Mak Minah pergi ke tepi sungai dan mendekati sebuah batu yang bisa
berbicara. Batu itu juga dapat membuka dan menutup seperti kerang. Orang-orang
menyebutnya Batu Batangkup.

  “Wahai Batu Batangkup, telanlah saya. Saya tak sanggup lagi hidup dengan ketiga anak
saya yang tidak pernah menghormati orang tuanya,” kata Mak Minah. Batu Batangkup
kemudian menelan tubuh Mak Minah dan yang tersisa adalah seujung dari rambut Mak
Minah yang panjang.

  Menjelang sore, ketiga anaknya Cuma heran sebentar karena tidak menjumpai emaknya
sejak pagi. Tetap karena makanan cukup banyak, mereka pun makan lalu bermain-main
kembali. Mereka tidak peduli lagi. Setelah hari kedua dan makanan pun habis, mereka
mulai kebingungan dan lapar. Sampai malam hari pun mereka tak bisa menemukan
emaknya. Keesokan harinya ketika mereka mencari di sekitar sungai, bertemulah mereka
dengan Batu Batangkup dan melihat ujung rambut emaknya.
“Wahai Batu Batangkup, kami membutuhkan emak kami. Tolong keluarkan emak kami
dari perutmu…,” ratap mereka. “Tidak!!! Kalian hanya membutuhkan emak saat kalian
lapar. Kalian tidak pernah menyayangi dan menghormati emak,” jawab Batu Batangkup.
Mereka terus meratap dan menangis. “Kami berjanji akan membantu, menyayangi dan
menghormati emak,” janji mereka. Akhirnya emak dikeluarkan dari perut Batu
Batangkup.
Maka mereka kemudian rajing membantu emak, menyayanngi serta patuh dan
menghormati emak. Tetapi hal tersebut tidaklah lama. Mereka kembali ke tabiat asal
mereka yang malas dan suka bermain-main serta tidak mau membantu, menyayangi dan
menghormati emak.
Mak Minah pun sedih dan kembali ke Batu Batangkup. Mak Minah pun ditelan kembali
oleh Batu Batangkup. Ketiga anak Mak Minah seperti biasa bermain dari pagi sampai
sore. Menjelang sore mereka baru sadar bahwa emak tak nampak seharian. Besoknya
 mereka mendatangi Batu Batangkup. Mereka meratap menangis seperti kejadian
sebelumnya. Tetapi kali ini Batu Batangkup marah. “Kalian memang anak nakal.
Penyesalan kalian kali ini tidak ada gunanya,” kata Batu Batangkup sambil menelan
mereka. Batu Batangkup pun masuk ke dalam tanah dan sampai sekarang tidak pernah
muncul kembali.

Leave a Reply

Give your advice, Thanks

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Blog Paling Seru - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -